Wednesday, 17 May 2017 10:00

    Diseminasi Aplikasi Teknologi Aeroponik untuk Meningkatkan Produksi Kentang di Indonesia

    Written by PTPP
    Rate this item
    (0 votes)

    Areal potensial tanaman kentang di Indonesia adalah 11.331.700 ha, di pulau Jawa 35% dan di luar pulau Jawa 65%. Penggunaan luas areal potensial tersebut terdapat  9 sentra produksi kentang yang masing-masing masih kurang dari 2% dari luas potensial. Dengan demikian masih besar kemungkinan melakukan ekstensifikasi budidaya kentang.

    Salah satu kendala yang dihadapi adalah rendahnya kualitas dan kuantitas benih kentang. Hal tersebut menjadi perhatian utama dalam peningkatan produktivitas kentang di Indonesia. Pada periode tahun 2008-2011 penyediaan benih kentang bermutu masih dibawah 15% dari kebutuhan.  Rendahnya ketersediaan ini menyebabkan harga benih kentang bersertifikat menjadi mahal, yang disebabkan juga oleh biaya transport yang tinggi, distribusi yang tidak merata dan tingkat kerusakan yang besar.

    Diperlukan suatu terobosan teknologi untuk untuk mengatasi permasalahan ini. Aplikasi teknologi perbanyakan dengan teknik kultur jaringan dan  teknik aeroponik merupakan cara yang dapat ditempuh untuk penyediaan bibit kentang yang lebih efisien. Dengan penggabungan kedua teknologi tersebut bibit kentang yang diperoleh akan dapat berkualitas memenuhi standar benih bersertifikat dan dalam waktu yang relatif singkat jumlah yang diperoleh 10 kali lipat dari teknik konvensional.   Namun demikian, teknologi aeroponik belum banyak diterapkan oleh penangkar bibit kentang di wilayah Indonesia. Selain karena membutuhkan investasi yang besar, teknologi aeroponik  skala kecil dan sederhana belum tersosialisasikan secara luas di kalangan petani. Untuk itu diperlukan suatu pelatihan bagi pengangkar benih kentang  yang memiliki visi dan misi yang sama  untuk pengembangan teknologi sistem aeroponik terutama kepada para praktisi lapangan sehingga dengan berkelompok mampu menyediakan bibit kentang  secara mandiri.

     

    PELAKSANA KEGIATAN

    Kerjasama antara Pusat Teknologi Produksi Pertanian -  BPPT dan Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia serta dibantu oleh i-LINK International Intermediary Education.

     

    WAKTU PELAKSANAAN KEGIATAN

    Kegiatan dilaksanakan selama 3 minggu dari November hingga Desember 2015

    LOKASI KEGIATAN

    1. Pelatihan diselenggarakan di Kota Batu Kab. Malang
    2. Lokasi sebagai studi kasus teknologi aeroponik dilakukan kunjungan ke instalasi aeroponik bibit kentang di :
    • Malang Batu, Jawa Timur
    • Pengalengan, Jawa Barat
    • Banjar Negara, Jawa Tengah
    • Malino, Sulawesi Selatan

     

    MITRA PENYEDIA DANA KEGIATAN

    Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia

     

    MITRA TIM AHLI DAN PELATIH

    1. Perekayasa dari Pusat Teknologi Produksi Pertanian, TAB, BPPT
    2. Dosen dari IPB
    3. Expert dari Vietnam National University of Agriculture, Institute of Agrobiology
    4. Agen Pemasaran dari PT. SAPA BIOTEK AGRINUSA
    5. Peneliti dari Balai Penelitian Sayuran – Lembang

     

    MITRA PESERTA

    Para peneliti/praktsi  dalam pembibitan kentang dari Pengalengan, Universitas Soedirman, Universitas Brawijaya, UGM, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, MIPI, Kelompok Petani Pengangkar bibit kentang dari Malang, Banjar Negara, Malino Sulawes, Napu Sulawesi Tengah, Minahasa. 

     

    TEKNOLOGI YANG DIDESIMINASIKAN

    Penggabungan teknologi in-vitro dan teknologi aeroponik dapat digunakan untuk meningkatkan jumlah benih yang dihasilkan. Teknologi in-vitro lebih diarahkan untuk propagasi plantlet secara masal dan cepat, sedangkan teknologi aeroponik memungkinkan untuk peningkatan jumlah umbi mini yang dihasilkan.   Aeroponik sendiri berasal dari kata aero yang berarti udara dan ponos yang berarti budidaya, jadi aeroponik adalah  budidaya tanaman dengan melalui system  pengkabutan. Sistem aeroponik dalam budidaya tanaman kentang dilakukan di dalam screen house dengan menggunakan bak yang terbuat dari fiberglass dan ditutup dengan menggunakan styroform, sehingga tanaman akan terbebas dari serangan hama dan penyakit karena bahan tanaman berupa stek mikro berasal dari hasil perbanyakan kultur jaringan  di laboratorium yang sudah steril.

    Penerapan teknik aeroponik sebagai teknologi inovatif merupakan terobosan baru dalam usaha perbanyakan benih kentang penjenis (G0). Keuntungan menggunakan teknik aeroponik selain praktis tidak perlu menggunakan media campuran tanah dan pupuk kandang steril, tidak banyak menggunakan pestisida, menghasilkan umbi sehat dan bersih, produksi umbi 10 x atau lebih dibanding cara konvensional, mudah dipanen, tenaga kerja yang dibutuhkan lebih sedikit, bebas patogen dan nutrisi dapat diatur supaya optimum diserap oleh  tanaman. Meskipun demikian teknologi ini merupakan teknologi modern dengan peralatan dan bahan yang cukup mahal dan memerlukan biaya cukup tinggi. Meskipun mahal,  bila dibandingkan dengan hasil yang berlipat maka biaya yang dikeluarkan terhitung cukup murah. Hasil analisis usahatani untuk luasan screen house 100m2 dibutuhkan modal sebesar 50 juta rupiah dengan persentase laba sebesar 33% dari total penerimaan.

                  Teknologi aeroponik yang dikembangkan di Institut of Agrobiology. Hanoi University of Agriculture, Vietnam menggunakan teknologi yang mahal. Di negara ini hanya dapat menanam kentang sekali dalam setahun yaitu ketika musim dingin yang hanya berdurasi 3 bulan yaitu November hingga Januari. Pada periode tersebut, kebutuhan akan benih kentang cukup tinggi yang selama ini dipenuhi dengan cara impor dari negara Jerman, Belanda dan Amerika. Benih kentang impor tersebut mahal sehingga institusi ini mengembangkan teknik produksi kentang bibit supaya lebih terjangkau oleh petani. Teknik perbanyakan masal dengan kultur jaringan dan budidaya aeroponik dinilai teknik yang paling efisien untuk penyediaan benih kentang bermutu. Dalam kegiatan kunjungan lapang yang dilakukan oleh expert, diberikan juga saran dan masukan untuk perbaikan system aeroponik yang telah dibangun untuk memaksimalkan produksi.

    Last modified on Wednesday, 17 May 2017 10:29